mobil warta literasi anak

Hampir satu Abad merdeka, ternyata literasi di Indonesia masih tergolong rendah. Tak mau hanya menyerah begitu saja, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tampaknya serius dalam meningkatkan literasi bagi anak usia dini. Pasalnya, Mobil Warta yang disediakan Pemkot ini selalu setia menunggu pembacanya di Taman Merjosari dan Alun-alun Kota. Upaya Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) tersebut dilakukan untuk membentuk kebiasaan belajar anak-anak.

Hadirnya Perpustakaan keliling ini seakan menjadi jawaban atas rendahnya literasi di Indonesia. Dikutip dari website resmi Kemdikbudristek (Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi), mengatakan bahwa literasi di Indonesia ini sangat menghawatirkan. Lantaran penggunaan smartphone yang berlebih menyebabkan anak terlalu asik berselancar di dunia maya ketimbang membaca buku.

Guna menanggulangi kecanduan anak terhadap gawai, Pemkot Malang menyediakan mobil warta di dua titik yang strategis. Seperti Taman Merjosari dan Alun-alun. Taman Merjosari dipilih karena tempatnya yang sejuk dan dekat dengan sekolah anak-anak. Sedangkan satunya berada di pusat kota, yaitu Alun-alun Malang. Letaknya yang tepat ditengah hiruk pikuknya kota, diharapkan dapat meningkatkan literasi khususnya bagi anak-anak.

mobil warta
Tampak Mobil Warta dari samping di Taman Merjosari

Suasana sejuk ala Kota Malang, ditemani meja dan kursi. Mobil Warta gagah berdiri di Taman Merjosari. Pak Arif namanya, Petugas Mobil Warta ini setia berjaga selama empat tahun lamanya. “Udah lama, sebelum saya tugas disini, ini (Mobil Warta) udah ada” ungkap petugas di Merjosari tersebut kala kami bertanya sejak kapan munculnya Mobil Warta. Menyasar ke pembaca cilik, Pak Arif berharap dengan cara ini anak-anak dapat mengenal literasi sejak dini.

Mobil Warta di Taman Merjosari biasanya disinggahi anak-anak yang sedang berolahraga diluar kelas. Siswa cilik tersebut tak jarang untuk mampir membaca atau hanya sekedar bersantai seusai kelas olahraga. Pak Arif mengaku jika terdapat beberapa sekolah seperti SD Surya Buana dan SDN 2 Merjosari kerap berkunjung di perpustakaan keliling ini.

Sayangnya, pada saat kami berkunjung (11/09/23), hanya terdapat 3 pengunjung dalam rentang waktu satu jam menunggu. Pria paruh baya tersebut mengaku jika hari ini sepi lantaran tidak ada anak sekolah yang berolahraga di Taman Merjosari. Namun Petugas asal Malang tersebut optimis jika anak-anak di kotanya memiliki minat baca yang tinggi. Lebih lanjut, Pak Arif mengaku biasanya mobil warta dikunjung sekitar 20 orang. Jika ramai jumlah ini bahkan bisa mencapai dua kali lipat.

Tak hanya di Taman Merjosari, Perpustakaan keliling ini juga dapat kamu jumpai di Alun-alun Malang. armada di Alun-alun Malang siaga pukul 09.00 hingga 13.00 WIB tiap hari Senin-Kamis. Sedangkan Mobil Warta di Taman Merjosari dapat kamu temui pukul 09.00 sampai 11.00 WIB di hari yang sama dengan Mobil Warta Alun-alun Malang. Sedikit berbeda dengan yang ada di Taman Merjosari, Mobil Warta Alun-alun Malang berdiri diatas unit Hiace sehingga sedikit lebih gagah dibanding dengan armada yang ada di Taman ramah anak tersebut.

Selain menetap di kedua titik tersebut, Mobil ini juga melakukan jemput bola di sekolah demi meningkatkan minat baca anak. Langkah ini dinilai efektif, pasalnya Mobil Warta selalu ramai dihadiri pembaca cilik. “Biasanya itu dirombong 3 atau 4 kelas, jadi bisa sampai ratusan anak” ujar petugas tersebut. Hingga saat ini terdapat 5 unit Mobil Warta milik dinas perpustakaan setempat yang aktif melayani hingga penjuru Kota Malang.

Terdapat beragam buku yang tersedia di Mobil Warta, dari buku cerita, sains hingga hukum. “Semua buku dari perpustakaan pusat” terang beliau saat kami bertanya perihal sumber buku bacaan. “Jadi kita siap-siap dari kantor, terus berangkat kesini (Taman Merjosari). Jam 11 balik lagi ke kantor” jelas Pak Arif.

Tak hanya membawa buku bacaan, Mobil Warta juga dilengkapi fasilitas lainnya untuk menarik minat anak berkunjung. Seperti mewarnai, bermain puzzle hingga menonton film. Film yang diputar merupakan dongeng-dongeng nusantara. Lewat film ini petugas Dispussipda tersebut berharap anak-anak dapat mengenal ragam budaya Indonesia lebih dini.

wawancara pak arif
Wawancara team kami bersama Pak Arif disebelah kiri

Meskipun sedikit terkendala mengenai sumber listrik, tak menyurutkan Pak Arif dalam memberikan tontonan bermutu kepada anak “Biasanya saya colokkan ke stopkontak yang ada di toilet” ungkap Pak Arif sambil menunjuk toilet yang jaraknya cukup jauh dari mobil. Penggunaan Media Film dalam peningkatan literasi anak juga sangat efektif. Lantaran selain merileksasikan anak ditengah kesibukannya sekolah. Menonton film juga dapat mengembangkan keterampilan kognitif anak.

Beliau juga menuturkan jika anak-anak sangat suka didongengkan “Ya namanya masih anak-anak itu paling kuat baca cuman setengah jam, berbeda kalau dibacakan dongeng” ungkap petugas asal Malang tersebut. Menurutnya, literasi kepada anak kecil lebih efektif jika terdapat pendongeng, sehingga anak tidak akan cepat bosan. Lewat dongeng, anak-anak juga dapat mengambil pesan yang tersirat didalamnya. Ini dapat melatih juga kepekaan anak terhadap peristiwa sekitar.

Namun mencari pendongeng anak saat ini bukan perkara mudah. “Sekarang profesi gitu bisa dihitung jari” tanggapan beliau menyoali profesi pendongeng. Minimnya minat anak muda terhadap profesi ini menjadi faktor utama sulitnya mencari pendongeng anak di era saat ini.

“Kemarin itu ada kegiatan hari anak, ngundang dari kabupaten atau provinsi gitu” ungkap Pak Arif menceritakan sulitnya mencari pendongeng. Sangat disayangkan jika profesi ini tidak dilirik anak muda saat ini. Padahal efektif dalam meningkatkan literasi bagi anak-anak. “ya semoga kedepannya lahir pendongeng yang bisa angkat literasi anak” harapnya.

Categories:

One response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *